NURUNNISA HAFEL, Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Ternate

[responsivevoice_button voice="Indonesian Female" buttontext="Bacakan "] [responsivevoice_button voice="#" buttontext="Stop"]

 

MITRAINDONESIAnews.com – HMI atau Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi ke-islaman dan ke-mahasiswaan yang tetap kokoh berdiri hingga sekarang ini, istilah organisasi tertua yang ada di indonesia yang tidak pernah hilang/pudar oleh peradaban, dan dengan hadirnya HMI juga menjadi bukti sebagai sebuah peradaban.

Tepat pada tanggal 5 Februari 1947 hingga sekarang ini. 74 Tahun berlalu tentunya, tidak lepas dengan hal-hal yang terjadi baik internal maupun eksternal HMI, membuat kader-kader yang telah tumbuh serta terlanjut cinta dengan rumah hijau hitam tidak akan melupakan eksistensinya sebagai seorang Kader Himpunan Mahasiswa Islam yang notabenenya harus mendedikasikan diri terhadap negara melalui nilai-nilai ke-islaman.

Kiprah para kader yang mulai tumbuh didalam wadah HMI mendominasi pemikiran-pemikiran yang sifatnya harus Pada kepentingan sosial bukan kepentingan yang bersifat individualistik.

Seiring dengan pertumbuhan Serta perkembangan zaman. HMI tak luput dari yang namanya permasalahan yang sedikit merapuhkan dan memecahkan pondasi dari HMI. Namun, HMI tetaplah HMI yang hadir untuk memperat nilai ukhuwah antara para kader, umat dan bangsa.

Isu permasalahan seperti dualisme HMI baik di cabang maupun di PB yang sedikit membuat goyah tiang HMI Itu sendiri. Imbasnya tentu saja adalah kader yang menjadi tidak fokus lagi, serta dijadikan titik masalah serius yang perlu diselesaikan secepat mungkin. Seperti yang telah ditulis dalam opini abangda Moh. Sagir Rajak (Ketua bidang PAO HMI cab.Jakarta Pusat periode 2017-2018) adalah “Andai Jenderal Soedirman hidup pada saat ini dan melihat HMI hari ini maka ia akan menarik kembali kata-katanya dari HMI ‘’Harapan Masyarakat Indonesia ‘’ Menjadi HMI’’ Himpunan Masalah Internal’’.

Ada banyak juga analisa yang mengatakan sebagai kader yang tenggelam didalam euforia Serta hanyut didalam sebuah problem, dan membiarkan problem tersebut tetap Mengakar dan tumbuh layaknya sebuah pohon. Tapi, bukan pohon Itu yang menjadi harapan sekarang ini.

Sehingga dampak positif tidak akan mampu mengimbangi dampak negatif yang semakin mendominasi pada organisasi. Dampaknya juga adalah kepada para kader yang baru berproses akan hilang ke-fokusan dikarenakan problem internal Himpunan.

Kita mengetahui Serta percaya bahwa Himpunan mahasiswa islam akan terus melahirkan Para Tokoh-tokoh yang tangguh Islam, aktivis kritis tingkat lokal, Nasional maupun Internasional, inilah benih-benih yang sering digaungkan dan oleh para Kanda dan Yunda untuk dijadikan motivasi kepada para calon-calon kader HMI nantinya. Bahwa, HMI akan tetap menjadi kebanggaan Bangsa kedepannya.

Respon positif tidak hanya mengalir di dalam darah seorang Kader saja, melainkan banyak sekali respond yang hadir dalam menanggapi oleh banyak pihak. Dan tulisan ini merupakan refleksi sebagai Kohati dalam menanggapi Persoalan organisasi tercinta ini (HMI).

Insan cita tentu tak asing lagi sebagai seorang Kader. 5 Kualitas insan cita yang harus dimiliki seorang Kader adalah ; Kualitas insan akademi, Kualitas insan Pencipta, kualitas insan pengabdi, Kualitas insan yang bernafaskan Islam, dan Kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Namun, realita sedikit bertolak belakang dengan citanya HMI, yang seharusnya menjadi khayalan (Utopia) sekarang menjadi berbalik ke realita.

Begitu banyak pengharapan untuk HMI kedepan, semoga cita Serta Marwahnya tidak pernah pupus ditengah problem internal Himpunan. Harapan untuk HMI di 74 Tahun ini adalah agar dapat tetap merawat nilai-nilai dasar dari HMI, memperkental ukhuwah antara kader, dan menjadikannya sebagai wadah untuk melahirkan kader yang sadar Akan problematika ditengah Rakyat.

Meminjam kata dari Ayahanda Lafran Pane “Dimanapun kau berkiprah Tak ada masalah. Yang penting adalah semangat ke-islaman dan ke-indonesiaan, Itu yang harus kau pegang terus”.