Di Soppeng, Anak Lahir Tanpa Pernikahan Tanggung Jawab Siapa ??

[responsivevoice_button voice="Indonesian Female" buttontext="Bacakan "] [responsivevoice_button voice="#" buttontext="Stop"]

SOPPENG mitraindonesianews.com – Malang nasib menimpa seorang janda, ST inisialnya (40) warga Kelurahan Pajalesang Kecamatan LiLi Rilau Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan (Sulsel)

Wanita malang ini diduga keras dihamili Lelaki BB inisialnya hingga ia malahirkan sorang anak tanpa proses pernikahan sesuai anjuran agama.

ST mengaku telah jadi korban bujuk rayu lelaki BB yang tidak bertanggung jawab dan kepada wartawan media ini mengatakan “Saya telah jadi korban perbuatan BB yang tidak bertanggung jawab untuk menikahi saya padahal, Lelaki BB berjanji akan menikahi saya apabila saya hamil karna perbuatan kami yang melakukan hubungan badan layaknya suami istri padahal kami bukan muhrim dan kini saya baru menyesalinya,” Kata ST menyesal.

Lanjut ST menuturkan “Terus terang, aib ini adalah perbuatan kami berdua, tapi malah saya sendiri yang menanggung beban karna terpaksa harus malu pada keluarga juga pada semua orang sedangkan Lelaki BB justru tidak mengakui anak tersebut sebagai darah dagingnya sendiri dengan alasan dia sudah beristri dan mempunyai satu orang anak Laki-laki,” Tutur ST. Kamis, 21/01/2021 sekira pukul 16-39 Wita.

Masih kata ST membeberkan “Lelaki BB ini adalah warga Desa Belo Kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng yang sudah beristri tapi sejak awal BB berjanji akan bertanggung jawab menikahi saya jika saya hamil akibat perbuatannya tapi sekarang nyatanya, BB mengingkari semua ucapannya dan persoalan yang saya alami ini sudah saya laporkan kepada pihak kepolisian Polres Soppeng malah laporan saya di tolak polisi di Polres Soppeng namun saya di arahkan melapor ke Polsek Ganra namun belum sempat melapor ke Polsek, saya keburu melahirkan di RSUD Latemmamala Soppeng tepatnya malam Jum’at, 14/01/2021 kemudian saat melahirkan, saya pun menyadari bahwa saya benar benar telah jadi korban perbuata Lelaki BB,” Ujar ST yang kecewa.

Tak hanya itu, ST bertutur dengan berderai air mata sembari menggendong anaknya itu menguraikan kisah asmaranya dengan BB yang berharap bahagia itu telah sirnah berganti aib dan kehancuran namabaik “Hidup saya sudah hancur karna ulah Lelaki BB. Setiap saya mengingat janjinya, hati saya terasa sakit. Yang sering muncul di ingatan saya saat saya telah menyadari kalau sudah beberapa bulan tidak haid dan Lelaki BB datang lagi ke rumah, kemudian saya menyampaikan kalau saya sekarang sedang mengandung calon anaknya, lalu BB mengatakan “jangan takut kalau sudah terpaksa yang pasti saya akan tanggung jawab jadi, untuk sementara biarlah menungguh waktu yang tepat sambil mengumpulkan uang untuk biaya nanti,” Kata ST menirukan ucapan Lelaki BB.

Lebih jauh ST menjelaskan “Lelaki BB hanya pernah memberikan uang sebanyak Rp:300 (tiga ratus ribu rupiah) dengan maksud agar saya menggugurkan anak dalam kandungan saya tapi saya tidak tega karena anak ini layak untuk hidup, dan tidak bersalah apa-apa sebab hanya kami berdua yang khilaf,” Jelas ST sedih.

Sebelum mengahiri uraiannya, ST juga mengatakan “Setelah usia kandungan saya memasuki sembilan bulan, dan dalam kondisi yang hamil tua, saya mencoba mencari keadilan lalu saya mengadu ke pemerintah setempat terkait apa yang saya alami namun semua terkesan hanya membebankan masalah ini pada saya seakan hanya saya sendiri saja melakukanya, bahkan ironisnya, malah saya diancam akan diusir dari tempat saya. Sebenarnya, saya pernah ke Polres Soppeng melapor tapi laporan saya tidak di terima polisi padahal, saya sebagai warga negara juga berhak mendapatkan keadilan. Rupanya, keadilan yang saya cari itu tak bisa saya dapatkan akhirnya saya hanya pasrah saja untuk merawat anak yang tidak diakui oleh bapak kandungnya sendiri. Yang saya tidak habis pikir bahwa, walaupun kami dalam kondisi yang serba kekurangan karena kami memang hanyalah keluarga kurang mampu tetapi kami pun punya hak menuntut keadilan paling tidak, kami akan terus bertanya bahwa apakah Lelaki yang telah menghamili seorang wanita tidak patut dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatanya.? Dan apakah aturan hukum di negara ini memang tidak menghendaki bila rakyat miskin menuntut keadilan hukum apabila terdzolimi.? ,”Tanya ST sembari teteskan air mata.

Sementara itu, Bhabinkantibmas Desa Belo mengatakan “Sebenarnya, perempuan ST ini adalah warga Kelurahan Pajalesang sedangkan Lelaki BB adalah warga Desa Belo jadi, untuk sementara kami menunggu waktu yang tepat agar Lelaki BB ini bersedia menikahi perempuan ST karena, setiap anak yang lahir itu harus punya akte kelahiran,” Kata Bhabinkantibmas Desa Belo.

Dilain waktu, Martang selaku Ketua RW yang dihubungi melalui Via Callularnya mengatakan “Masalah ini saya limpahkan ke Ganrah karena TKP-nya disana dan saya juga sudah cape menangani masalah ini karna yang bersangkutan, sudah berapa kalimi begitu. Tutupnya.

Sehingga berita ini diterbitkan, korban ST berharap kepada pihak yang berwenang menangani persoalan yang dialaminya agar dapat memperoleh rasa keadilan sesuai aturan dan berdasarkan Undang Undang yang berlaku.

Reporter : Firman