Eksekutif rumah yang dimenangkan lelang oleh Lel Jumadil diduga karyawan koporasi Sahabat Sampoerna sendiri

[responsivevoice_button voice="Indonesian Female" buttontext="Bacakan "] [responsivevoice_button voice="#" buttontext="Stop"]

 

GOWA,  MITRAINDONESIAnews.com – Ketua umum DPP Lsm Gempa Indonesis Amiruddin.SH Kr.Tinggi angkat bicara terkait Pelaksaan Eksekusi penetapan Pengadilan Negeri Sungguminasa yang diajukan oleh pemenang lelang yang bernama lel.Jumadil dini tanggal 12 April 2021 di Perusahaan Pallangga Mas dua nomor 1/10.

Ketua DPP Lsm Gempa Indonesia menjelaskan kepada awak media bahwa eksekusi itu dilaksanakan sesuai dengan SOP lengkap dengan pengamanan aparat kepolisian Polres Gowa hadir pula kapolsek Pallangga dan personilnya,pihak tereksekusi dan beberapa keluarganya tidak melakukan perlawanan karena dengan adanya Amiruddin.SH Kr Tinggi Ketua DPP Lsm Gempa Indonesia yang dapat memberikan arahan terhadap pemilik rumah,namun sedikit bersih tegang dengan adanya dari pihak Pemohon membawa sajam berupa badik sambil mau mencabut memancing suasana memperlihatkan sikap premanisme nya,karena membawa sajam berupa badik maka pihak kapolsek Pallangga mengamankan pemilik badik tersebut setelah Kr.Tinggi mendesak petugas untuk mengamankan dan memproses sesuai hukum yang berlaku bernama Barru Dg.Mangung yang melanggar undang undang darurat ( Lembaran Negara)

Amiruddin Sh.Kr Tinggi mengecam kepada penegak hukum apabila pelaku yang membawa badik tersebut tidak di proses sesuai hukum yang berlaku.

Eksekusi dilakukan dengan adanya Penetapan eksekusi yang dikeluarkan oleh pengadilan Negeri Sungguminasa atas permintaan pihak pemenang lelang atas nama Lel.Jumadil, sebenarnya pelaksanaan lelang itu sangat janggal,karena pemilik rumah atau pihak tereksekusi pernah meminjam uang kredit dari Bank Sampoerna sebesar Rp.398.000.000 ( tiga ratus sembilan puluh Delapan juta rupiah) pada tahun 2018,tetapi yang diterima oleh pihak Pemohon hanya 330 juta rupiah dari pihak bank Sampoerna dengan pembayaran angsuran perbulan sebesar 13 juta lebih,jangka waktu 60 bulan, kalau dirinci pengembalian pokok dan bunga lebih dari dua kali atau lebih dari 51 %.

Hikmawati mengetahui bahwa ada koporasi yang bernama Koporasi Sahabat Sampoerna yang dapat meminjamkan uang dari karyawan koporasi sendiri datang menawarkan dan mengatakan bunga uang Koporasi ini sama dengan bunga bank,maka pemilik rumah (Hikmawati)tergiur karena pengurusan persyaratan dikerjakan oleh Karyawan koporasi Sahabat Sampoerna di rumah calon nasabah (Hikmawati )

Sesudah selesai dikerjakan berkas persyaratan,pihak calon nasabah diajak ke Notaris membawa sertifikat rumahnya yang hendak dijaminkan.

Sesudah sampai ke kantor notaris di jalan urip sumoharjo Makassar,notaris hanya meminta identitas,lalu disodorkan berkas untuk ditanda tangani oleh Hikmawati,notaris tidak membacakan dan tidak menjelaskan apa yang ditanda tangani Hikmawati,dan paling salah lagi notaris tidak memberikan salinan atau turunannya kepada Hikmawati.

Amiruddin juga menjelaskan didepan awak media,terkait Pelanggaran yang dilakukan oleh koporasi Sahabat Sampoerna, yakni tidak memberitahu kepada nasabah bahwa yang ditempati pinjam uang adalah koporasi Sahabat Sampoerna,bunga uang diatas 51%,tidak pernah memberitahu bahwa rumah milik nasabah itu sudah dilelang dan dimenangkan oleh Lel.Jumadil.

Ditambahkan lagi oleh Amiruddin Sh.Kr Tinggi,bahwa pemilik rumah bisa mengajukan gugatan ke pengadilan untuk menggugat pemenang lelang,koperasi sahabat Sampoerna,notaris dan BPN Kabupaten Gowa karena dapat melakukan balik nama sertifikat,dan tidak tertutup kemungkinan kasus ini ada tindak pidana kejahatan kata Amiruddin SH Kr.TINGGI sebagai pendamping pihak tereksekusi tutupnya.

Sumber : LSM Gempa Indonesia