BW Sebut SK Penonaktifan 75 Pegawai KPK Itu Pelanggaran HAM

[responsivevoice_button voice="Indonesian Female" buttontext="Bacakan "] [responsivevoice_button voice="#" buttontext="Stop"]

Jakarta – mitraindonesianews.com – Mantan komisioner Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, mengatakan Surat Keputusan (SK) pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ditandatangani Firli Bahuri bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Diketahui, dalam SK bernomor 652 tahun 2021itu disebutkan bahwa para pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) diminta untuk menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya kepada atasan masing-masing.

Padahal, menurut Bambang, berdasarkan putusan MK pada uji materi revisi Undang-Undang KPK, alih fungsi pegawai menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak boleh mengurangi hak pegawai KPK.

“Tindakan ini bertentangan dengan putusan MK yang mensyaratkan tidak boleh ada tindakan yang merugikan insan KPK,” kata Bambang dalam keterangan resminya yang diterima pada Rabu (12/5/2021).

Bambang menjelaskan, tindakan Firli Bahuri yang menerbitkan SK itu mematikan hak keperdataan dan publik para pegawai KPK yang tak lolos TWK.

“Kebijakan berupa tindakan nonjob ini menjadi sangat fatal sekali karena hak keperdataan dan publik pegawai KPK telah secara sengaja dimatikan. Ini pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM),” ujar Bambang.

Menurutnya, kebijakan pimpinan KPK itu merupakan hukuman yang menyakitkan bagi para pegawai KPK yang selama ini bekerja keras dalam upaya pemberantasan korupsi. Tak hanya itu, Bambang pun menyebut kebijakan ini merupakan pembunuhan karakter.

“Lebih-lebih ini adalah hukuman yang sangat menyakitkan bagi orang profesional dan punya integritas sehingga layak disebut sebagai character assassination atau pembunuhan karakter,” ucapnya.

Sebagai informasi SK yang ditandatangani Firli Bahuri adalah buntut dari tidak lolosnya 75 pegawai KPK pada TWK sebagai syarat alih status kepegawaian menjadi ASN.

Diketahui beberapa pegawai KPK yang tak lolos adalah pegawai yang sedang terlibat dalam pengungkapan kasus mega korupsi. Di antaranya penyidik senior Novel Baswedan dan Andre Nainggolan.

Novel disebut aktif dalam pengungkapan kasus korupsi benih benur lobster di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sementara Andre adalah penyidik kasus korupsi dana bantuan sosial di Kementerian Sosial. Selain keduanya, penyelidik Harun Al Rasyid juga disebut tak lolos TWK.

Harun adalah penyelidik yang memimpin operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, Senin (10/5/2021) pagi.

Selain kedua nama tersebut ada pula nama Direktur Sosialisasi dan Kampanye Anti Korupsi KPK Giri Suprapdiono.

Padahal, Giri pernah meraih penghargaan Makarti Bhakti Nigari Award 2020 dari Lembaga Administras Negara (LAN) sebagai peserta diklat terbaik yang dilakukan bersama seluruh direktur kementerian/lembaga.( * )